Bahan Ajar Program Khusus BKPBI

Jumat, 05 Oktober 20120 komentar

BAHAN AJAR PROGRAM KHUSUS BKPBI

A. Pengertian
Bina Komunikasi Persepsi Bunyi dan Irama bukan merupakan suatu bidang studi
khusus, namun merupakan suatu proses penilaian untuk memperoleh gambaran
terhadap performa siswa dalam mendeteksi dan memahami bunyi. Hyde (1991)
mengemukakan bahwa kegiatan BKPBI dapat dibedakan dalam : 1) asesmen
kemampuan dengar (hearing assessment) yang dipresentasikan oleh audiogram
sebagai hasil pengukuran klinis serta terkait dengan pemilihan alat bantu
mendengar yang sesuai dan 2) keterampilan menyimak/mendengarkan (listening
skill) yang berkaitan dengan seberapa jauh penyandang tunarungu masih bisa
memanfaatkan pendengarannya untuk mempersepsi dan memahami bunyi-bunyi
terutama bunyi cakupan/wicara dalam lingkungan hidup yang wajar.

Mengingat BKPBI tertuang dalam struktur kurikulum sebagai program khusus
dalam pendidikan anak tunarungu serta dengan memperhatikan uraian Hyde di
atas, maka konsekuensi logis dalam persekolahan tunarungu selayaknya dilakukan
pemeriksaan pendengaran secara periodik untuk mengetahui tingkat kehilangan
pendengaran anak. Dengan latihan-latihan keterampilan menyimak atau
mendengarkan diharapkan syaraf-syaraf pendengaran yang tidur (letargik) akan
menjadi lebih peka terhadap rangsangan bunyi. Hal ini senada dengan pendapat
Subarto (1993: 66) :
“Yang dimaksud dengan BKPBI ialah pembinaan dalam penghayatan bunyi yang dilakukan dengan sengaja
atau tidak sengaja, sehingga sisa-sisa pendengaran dan perasaan vibrasi yang dimiliki anak-anak tunarungu
dapat dipergunakan sebaik-baiknya untuk berintegrasi dengan dunia sekelilingnya yang penuh bunyi”.


Pembinaan secara sengaja yang dimaksud adalah bahwa pembinaan itu dilakukan
secara terprogram; tujuan, jenis pembinaan, metode yang digunakan dan alokasi
waktunya sudah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pembinaan secara tidak
sengaja adalah pembinaan yang spontan karena anak bereaksi terhadap bunyi latar
belakang yang hadir pada situasi pembelajaran di kelas, seperti bunyi motor,
bunyi helikopter atau halilintar, kemudian guru membahasakannya. Misalnya,
“Oh kalian dengar suara motor ya ? Suaranya ‘brem... brem... brem...’ benar
begitu ?”. Kemudian guru mengajak anak menirukan bunyi helikopter dan
kembali meneruskan pembelajaran yang terhenti karena anak bereaksi terhadap
bunyi latar belakang tadi.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Iwan Santiong - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger